Ada empat hal yang jika dilakukan seorang muslim, pastilah cintanya kepada Rasulullah meningkat.
Pertama, memperbanyak beshalawat kepada Rasulullah saw, sebab shalawat bisa melanggengkan hungungan antara diri anda dan Rasulullah saw. Setiap anda mengucapkan salam kepada beliau, beliau akan membalas salam anda.
Kedua, mempelajari sejarah hidup Rasulullah saw. Dari sana anda bisa mengetahui kehidupan, perjuangan, dan kasih sayang beliau, juga sisi-sisi kehidupan beliau lainnya.
Ketiga, mengikuti sunnah Rasulullah saw. Ketika seseorang membaca sejarah hidup Rasulullah saw, dia akan mengetahui ahlak beliau, cara beliau melakukan shalat dan cara beliau berinteraksi dengan orang lain. Ketika dia sudah mengetahuinya, dia akan berusaha mempraktikan semua itu dalam kehidupannya, setelahnya dia akan memiliki ahlak yang luhur sehingga dia bisa meraih cinta Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian, dia akan bisa bersama-sama Rasulullah di surga. Inilah tujuan luhur yang seharusnya menjadi cita-cita dan harapan setiap muslim.
Berziarah ke Madinah Rasulullah saw. Disana, kita memohon kepada Allah agar semua muslim dikaruniai kesempatan untuk berziarah ke kota Rasulullah.
Sumber: Dr. Amr Khalid dalam kitab Hubb al-Rasul
30 September 2009
hal-hal yang bisa menumbuhkan kecintaan kita pada Rasulullah
Cinta ‘Umar ibn al-Khaththab kepada Rasulullah saw.
‘Umar ibn al-Khaththab (semoga Allah meridainya) merupakan sosok yang bisa diteladani dalam mencintai Rasulullah saw.
Ketika beliau hendak meninggalkan dunia (setelah ditebas oleh Abu Lu’lu al _Majusi) dan darah masih bercucuran dari tubuhnya, apa yang beliau sibukkan? Apa yang beliau pikirkan?
Dalam kondisi seperti itu, Sayyidina ‘Umar ibn al-Khaththab berkata,
“Pergilah kalian menghadap ‘A’isyah, umm al-Mu’minin, dan mintakan izin padanya agar ‘Umar bisa dikuburkan disamoing Rasulullah saw.”
Mereka lalu pergi dan kembali lagi untuk memberitahukan kepadanya bahwa ‘A’isyah r.a. telah memberi izin. ‘Umar lalu berkata,
“Ahlamdulillah. Demi Allah, aku tak pernah punya keinginan sebesar keinginanku untuk dikuburkan di samping Rasulullah saw.”
Sumber: Dr. Amr Khalid dalam kitab Hubb al-Rasul
28 April 2009
Menghidupkan Kecintaan kepada Rasulullah SAW
“Ya Rasulullah, sungguh engkau lebih kucintai daripada diriku, dan anakku,” kata seorang sahabat suatu hari kepada Rasulullah Muhammad saw. “Apabila aku berada di rumah, lalu kemudian teringat kepadamu, maka aku tak akan tahan meredam rasa rinduku sampai aku datang dan memandang wajahmu. Tapi apabila aku teringat pada mati, aku merasa sangat sedih, karena aku tahu bahwa engkau pasti akan masuk ke dalam surga dan berkumpul bersama nabi-nabi yang lain. Sementara aku apabila ditakdirkan masuk ke dalam surga, aku khawatir tak akan bisa lagi melihat wajahmu, karena derajatku jauh lebih rendah dari derajatmu.”
Mendengar kata-kata sahabat yang demikian mengharukan hati itu, Nabi tidak memberi sembarang jawaban sampai malaikat Jibril turun dan membawa firman Allah berikut: “Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah; yaitu nabi-nabi, para shiddiqin, syuhada dan orang-orang yang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. 4:69)
Mencintai Rasulullah adalah sebuah prinsip dan kewajiban dalam agama Islam, bukan sebuah pilihan yang notabenenya adalah mau atau tidak. Terhadap Muhammad, seorang Muslim harus menyimpan rasa cinta betapapun kecilnya. Karena cinta merupakan dasar dan landasan yang bisa mengantar seseorang pada pengetahuan dan keikutsertaan. To know Indonesia is to love Indonesia, begitu kata sebuah iklan yang mempromosikan Indonesia. Untuk bisa “tahu” terlebih dahulu harus menyimpan rasa “cinta”.
Cinta memang duduk sebagai sebuah landasan untuk mengetahui siapa Muhammad saw. Karena itu cinta kepada Muhammad bukan hanya sunat, tapi wajib, yang darinya seorang Muslim akan bisa mengenalnya lalu kemudian mencerminkan diri padanya. “Setiap orang akan senantiasa bersama orang yang dicintainya,” begitu pesan Nabi.
Cinta memang laksana air mengalir yang memindahkan seluruh sifat dan karakter si kekasih kepada yang men-cintainya.
Ketika Allah mewajibkan umat manusia untuk mencintai Nabi Muhammad, maka instruksi tersebut jelas bukan sebuah perintah tanpa tujuan. Karena mustahil Allah akan memerintahkan sesuatu yang sia-sia. Tetapi tujuan tersebut juga bukan sesuatu yang kepentingannya akan kembali kepada Allah atau Rasul-Nya, karena Allah Swt Mahakaya dari butuh pada sesuatu; dan Rasul-Nya juga tidak butuh pada interes tertentu. Dengan demikian mencintai Rasulullah adalah sebuah perintah yang manfaatnya semata-mata untuk kepentingan manusia itu sendiri. Lalu, apa manfaat dari mencintai Rasulullah?
Ada manfaat yang instant dan yang jangka panjang. Di antara manfaat yang segera akan kita rasakan adalah terpautnya hati pada pribadi Muhammad saw. Apabila kita jujur dalam mencintai Muhammad, maka hati kita akan merindukan Muhammad; sama persis seperti tokoh kita di atas merindukan Rasulullah. Bedanya adalah dia bisa mengobati rindunya dengan mendatangi Muhammad secara langsung, sementara kita mengobati rindu dengan hanya menye-butnyebut namanya. “Barang siapa mencintai sesuatu maka dia akan menyebut-nyebutnya,” kata Imam `Alî bin Abî Thâlib kw.
Apabila kita jujur dalam mencintai Muhammad saw, maka jiwa kita akan terbentuk dan tercermin pada jiwa Muhammad saw. “Bukti cinta adalah mendahulukan sang kekasih di atas selainnya,” begitu kata Imam Ja’far al-Shadiq as.
Apabila kita jujur mencintai Muhammad, maka kita akan berupaya mencari tahu segala sesuatu tentang dirinya; kehidupan pribadinya, kehidupannya dalam keluarga, dengan sesama saudara, dengan lingkungannya, dan lain sebagainya. Apabila kita ingin mengetahui sejarah Muhammad dan segala sesuatu yang berkaitan dengan pribadi manusia yang agung ini, hendaklah diawali dengan rasa cinta terlebih dahulu. Apabila sudah tertanam rasa cinta, maka akan timbul sikap sungguh-sungguh untuk mengetahuinya secara akurat dan mendalam. Pengetahuan yang tidak dilandasi pada dasar cinta akan berakibat rancu, setengah-setengah dan kurang sempurna. Dari situ kita akan mengetahui mengapa Allah Swt mewajibkan kita untuk mencintai Muhammad saw, bahkan sebelum kita mengetahuinya sekalipun.
Di antara manfaat jangka panjang dari rasa cinta kita pada Muhammad saw adalah seperti yang difirmankan oleh Allah Swt dalam surat yang kita kutip di atas; bahwa dia kelak akan bersama para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang saleh. Bahkan dalam sebuah hadis Nabi saw bersabda: “Cinta padaku dan cinta pada Ahli Baitku akan membawa manfaat di tujuh tempat yang sangat mengerikan: di saat wafat, di dalam kubur, ketika dibangkitkan, ketika pembagian buku-buku catatan amal, di saat hisab, di saat penimbangan amal-amal dan di saat penitian shirat al-mustaqim.”
Cinta Murni dan Cinta Semu
Ada jenis kategori cinta. Pertama, cinta yang berakhir dengan kebosanan. Untuk ini kita sebut saja dengan cinta semu. Kita cinta pada dunia, harta, anak-istri dan sebagainya. Cinta kita pada mereka tidak selamanya meluap-luap bak api membara. Ada saatnya cinta kita redup, bahkan kadang-kadang mati sama sekali. Kita mencintai anak kandung kita. Tapi apabila tiba-tiba dia durhaka pada orangtua, maka cinta bisa berbalik murka. Kita cinta pada dunia kita, yang halal tentunya. Tapi kadang-kadang timbul kebosanan sedemikian rupa sehingga kita meninggalkannya secara total. Cinta seperti itu adalah cinta semu, sebuah cinta yang berakhir pada kebosanan.
Kedua, cinta murni. Jenis cinta ini adalah cinta yang senantiasa hangat dan membara. Dengan cinta itu dia mengejar kekasihnya, melakukan sesuatu karena kekasihnya, bahkan mau mati semata-mata karena kekasihnya. Cinta seperti ini adalah cinta yang tidak pernah bosan dan berakhir. Cinta murni adalah sebuah cinta yang terbit untuk Allah Swt. Imam `Alî berkata: “Cinta pada Allah adalah api yang membakar segala sesuatu yang dilewatinya.”
Karena cinta pada Allah, maka orang-orang mukmin mau mati di jalan-Nya. Cinta pada Allah memang bisa membakar setiap usaha yang menghalanginya. Imam al-Shadiq berdoa: “Ya Sayyidi, aku lapar dan tidak pernah kenyang dari mencintaiMu; aku haus dan tidak pernah puas dari mencintai-Mu. Oh. betapa rindunya pada Dia. Yang melihatku tapi aku tidak melihat-Nya.”
Dalam hadis yang lain beliau bersabda: Tentu cinta pada Allah adalah sejenis cinta murni. Tidak terselubung di dalamnya rasa benci, enggan dan murka. Cinta pada Allah adalah cinta pada kemutlakan; cinta yang tidak bertepi dan tidak berujung. Tapi bagaimana dengan cinta pada Muhammad saw? Apakah cinta kepada Muhammad yang diwajibkan Allah kepada kita adalah sejenis cinta semu atau cinta murni. Nabi saw bersabda: “Cintailah Allah karena nikmat yang telah dianugerahkan-Nya pada kalian, cintailah aku karena cinta Allah (padaku) dan cintailah Ahli Baitku karena cintaku.”"Tidak beriman seorang hamba sehingga aku lebih ia cintai daripada dirinya sendiri dan itrah (keluarga)-ku lebih ia cintai ketimbang keluarganya.”
Melihat hadis ini dan hadis-hadis sejenis yang lain terasa bahwa tuntutan untuk mencintai Muhammad dan keluarganya bukan sejenis cinta semu yang kapan pun boleh hilang atau dihilangkan. Secara vertikal, ketika kita mencintai mereka sebenarnya kita juga mencintai Allah dan ketika kita membenci mereka kita pun membenci Allah.
“innama yuridullahu liyudzhibaankum ‘rijsa ‘ahlul bayt wa yuthahirakum tadzhira”
(Sungguh tiada lain Allah berkehendak memelihara kamu dari dosa-dosa, hai Ahlul bayt nabi dan mensucikan kamu dengan sesuci-sucinya QS.Al-Ahzab 33)
Purwokerto 10 Maret 2009 (ini bukan tulisanku sendiri, tapi mohon maaf, aku tak tahu dari mana sumbernya ataupun siapa penulisanya, jika ada yang berkenan memberi tahu, silahkan postkan di komentar.)
Beliau Tentu Tersenyum...
Bayangkan apabila Rasulullah dengan seijin Allah tiba-tiba muncul mengetuk pintu rumah kita. Beliau datang dengan tersenyum dan muka bersih di muka pintu rumah kita, Apa yang akan kita lakukan? Mestinya kita akan sangat berbahagia, memeluk beliau erat-erat dan lantas mempersilahkan beliau masuk ke ruang tamu kita. Kemudian kita tentunya akan meminta dengan sangat agar Rasulullah sudi menginap beberapa hari di rumah kita. Beliau tentu tersenyum........
Tapi barangkali kita meminta pula Rasulullah menunggu sebentar di depan pintu karena kita teringat Video CD rated R18+ yang ada di ruang tengah dan kita tergesa-gesa memindahkan dahulu video tersebut ke dalam.
Beliau tentu tetap tersenyum........
Atau barangkali kita teringat akan lukisan wanita setengah telanjang yang kita pajang di ruang tamu kita, sehingga kita terpaksa juga memindahkannya ke belakang secara tergesa-gesa.
Barangkali kita akan memindahkan lafal Allah dan Muhammad yang ada di ruang samping dan kita meletakkannya di ruang tamu.
Beliau tentu tersenyum.......
Bagaimana bila kemudian Rasulullah bersedia menginap di rumah kita? Barangkali kita teringat bahwa kita lebih hapal lagu-lagu barat daripada menghapal Shalawat kepada Rasulullah SAW.
Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengetahui sedikitpun sejarah Rasulullah SAW karena kita lupa dan lalai mempelajarinya.
Beliau tentu tersenyum........
Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengetahui satupun nama keluarga Rasulullah dan sahabatnya tetapi hapal di luar kepala mengenai anggota Indonesian Idols atau AFI.
Barangkali kita terpaksa harus menyulap satu kamar mandi menjadi ruang shalat. Atau barangkali kita teringat bahwa perempuan di rumah kita tidak memiliki koleksi pakaian yang pantas untuk berhadapan kepada Rasulullah.
Beliau tentu tersenyum........
Belum lagi koleksi buku-buku kita. Belum lagi koleksi kaset kita. Belum lagi koleksi karaoke kita. Kemana kita harus menyingkirkan semua koleksi tersebut demi menghormati junjungan kita?
Barangkali kita menjadi malu diketahui junjungan kita bahwa kita tidak pernah ke masjid meskipun adzan berbunyi.
Beliau tentu tersenyum........
Barangkali kita menjadi malu karena pada saat Maghrib keluarga kita malah sibuk di depan TV.
Barangkali kita menjadi malu karena kita menghabiskan hampir seluruh waktu kita untuk mencari kesenangan duniawi.
Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita tidak pernah menjalankan shalat sunnah.
Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita sangat jarang membaca Al-Qur'an.
Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengenal tetangga-tetangga kita.
Beliau tentu tersenyum.......
Barangkali kita menjadi malu jika Rasulullah menanyakan kepada kita siapa nama tukang sampah yang setiap hari lewat di depan rumah kita.
Barangkali kita menjadi malu jika Rasulullah bertanya tentang nama dan alamat tukang penjaga masjid di kampung kita.
Betapa senyum beliau masih ada di situ........
Bayangkan apabila Rasulullah tiba-tiba muncul di depan rumah kita. Apa yang akan kita lakukan? Masihkah kita memeluk junjungan kita dan mempersilahkan beliau masuk dan menginap di rumah kita?
Ataukah akhirnya dengan berat hati, kita akan menolak beliau berkunjung ke rumah karena hal itu akan sangat membuat kita repot dan malu.
Maafkan kami ya Rasulullah.........
Masihkah beliau tersenyum?
Senyum pilu, senyum sedih dan senyum getir........
Oh betapa memalukannya kehidupan kita saat ini di mata Rasulullah........
Pikiran yang terbuka dan mulut yang tertutup merupakan suatu kombinasi kebahagiaan.
Jangan jadikan Penghalang sebagai hambatan, tetapi jadikan sebagai pendorong aktifitas.
Siapa yang mendiamkan saja kejahatan merajalela, dia itu membantu kejahatan!
Sehalus-halusnya musibah adalah ketika kedekatan kita denganNya perlahan-lahan terenggut dan itu biasanya ditandai dengan menurunnya kualitas ibadah.
Purwokerto 10 Maret 2009 (ini bukan tulisanku sendiri, tapi mohon maaf, aku tak tahu dari mana sumbernya ataupun siapa penulisanya, jika ada yang berkenan memberi tahu, silahkan postkan di komentar.)
16 April 2009
Belahan Jiwa Rasulullah SAW
Sabda Rasulullah saw :
“Fathimah (Putri Rasul saw) Belahan jiwaku, membuatku marah apa apa yg membuatnya marah” (Shahih Bukhari)
Kita mengenal satu sosok manusia yang sangat dicintai oleh Rasulullah saw, manusia yang paling disayang Rasulullah. Siapa? Sayyidatuna Fatimah Azzahra radiyallahu anha. Ini haditsnya baru kita baca. “Fatimah badh’atun minniy..” Putriku Fatimah itu belahan dari tubuhku. Tapi Imam Ibn Hajar didalam Fathul Baari lebih menekankan kepada belahan jiwaku. Maksudnya yang paling kucintai. “..aghdhabaniy man aghdhabaha” siapapun yang membuatnya marah akan membuatku marah.
Kalimatnya sangat singkat, tapi kalau kita perdalam maknanya Rasulullah itu tidak pernah marah untuk dirinya. Rasulullah itu marah hanya karena Allah saja semata. Kalau sudah urusan haknya Allah, baru Rasul saw marah. Berarti orang yang menyinggung perasaan Sayyidatuna Fatimah Azzahra berurusan dengan kemurkaan Allah. “..faman aghdhabaha aghdhabaniy” yang membuatnya marah akan membuatku marah. Ini adalah satu isyarat daripada hadits Nabi saw, betapa cinta Allah kepada Sayyidatuna Fatimah Azzahra, sehingga Rasul murka dengan orang yang membuat Sayyidatuna Fatimah Azzahra marah.
Ketika Sayyidina Ali bin Abi Tholib kw mengirimkan istrinya yaitu Sayyidatuna Fatimah Azzahra, karena tidak tega melihat Sayyidatuna Fatimah tangannya ini luka – luka karena menumbuk padi sendiri, menumbuk gandum sendiri untuk makanan anak – anaknya Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein. Tangan yang demikian lembut mulai tergores – gores dan berdarah.
Sayyidina Ali bin Abi Tholib tidak tega, kalau begitu coba minta pada Rasulullah khadim. “Banyak koq yang mau berkhadim kepada kita”, kata Sayyidina Ali bin Abi Tholib. Sayyidatuna Fatimah datang kepada Rasul saw. Rasulullah berdiri, disini dalil. Diriwayatkan didalam Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari oleh Imam Ibn Hajar Al Asqalani bahwa Rasul itu berdiri untuk menyambut Sayyidatuna Fatimah Azzahra, teriwayatkan dalam banyak hadits shahih. Ini dalil berdirinya kita untuk orang yang kita cintai. Rasulullah datang, Sayyidatuna Fatimah berdiri.
Sayyidatuna Fatimah meminta khadim (pembantu) kepada Ayahnya. Ayahnya berkata “ya Fatimah, kuajarkan kau bacaan dan itu lebih baik daripada pembantu”, Sayyidatuna Fatimah berkata “koq bacaan wahai Ayah?”, Rasul berkata “sebelum kau tidur baca Subhanallah 33X, Alhamdulillah 33X, Allahu Akbar 33X dan akhiri dengan Lailahailallah wahdahu laa syarikalah lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yumiitu wa huwa a’laa kulli syaiin qadir, lalu tidurlah. Kau bangun pasti akan lebih segar tubuhmu” (Shahih Bukhari),
Sekilas kita mengatakan bahwa ini adalah perbuatan yang sedikit kejam. Orang minta pembantu malah diberi dzikir, tetapi hadirin ini mujarab. Kalian pulang dari sini boleh coba, tubuh yang sedang lelah dan lesu, coba sebelum tidur membaca Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, masing – masing 33X dan akhiri dengan Lailahailallah wahdahu laa syarikalah.., lalu tidur dan lihat bangunmu tidak sama dengan bangun yang tanpa dzikir. Ada 1 kenasaban, ada rahasia kekuatan Illahiyah masuk kedalam sel – sel tubuhmu.
Demikian Sang Nabi saw mengajari untuk Sayyidatuna Fatimah Azzahra. Wasiat beliau saw kepada putrinya dan Rasul saw tidak memberikan khadim (pembantu). Kejam sekali Rasul yang mempunyai banyak khadim. Sahabat diberi khadim 5, yang ini dikasih khadim 10.
Sementara putrinya tidak diberi khadim. Kenapa? karena makanan yang dibuat dengan tangan ibunya sendiri lebih berkah daripada makanan yang dibuat tangan pembantu. Kalau anak makanannya dari tangan ibunya jauh lebih berhak dan lebih berkah daripada anak yang diberi makan dari tangan pembantunya. Dari kasih sayangnya, dari dzikirnya, apalagi Sang Ibu ini Sayyidatuna Fatimah Azzahra radiyallahu anha. Rasul tidak mau makanan Sayyidina Hasan wal Husein dicampuri tangan pembantu.
Cukup tangan ibunya Sayyidatuna Fatimah Azzahra karena Rasulullah tahu dari keturunan Sayyidina Hasan wal Husein akan muncul puluhan ribu wali Allah yang akan mengislamkan Barat dan Timur. Ibunda dari semua Habaib yang ada di permukaan bumi. Maka Rasul tidak mau ada tangan pembantu ikut makan daripada makanan Sayyidina Hasan wal Husein radiyallahu anhum. Demikian hadirin – hadirat, indahnya tarbiyah Sang Nabi saw.
Sumber Habib Munzir Al Musawwa at http://majelisrasulullah.org
Bagaimana Agar Mencintai Nabi shallallahu alaihi wasalam?
a. Hendaknya kita ingat bahwa Nabi shallallahu alaihi wasalam adalah orang yang paling baik dan paling berjasa kepada kita, bahkan hingga dari orang tua kita sendiri. Beliaulah yang mengeluarkan kita dari kege-lapan kepada cahaya, yang menyampai-kan agama dan kebaikan kepada kita, yang memperingatkan kita dari kemungkaran. Dan kalau bukan karena rahmat Allah yang mengutus beliau shallallahu alaihi wasalam, tentu kita telah tenggelam dalam kesesatan.
b. Renungkanlah perjalanan hidup Nabi shallallahu alaihi wasalam, jihad dan kesabarannya serta apa yang beliau korbankan demi tegaknya agama ini, dalam menyebarkan tauhid serta memadamkan syirik, sungguh suatu upaya yang tidak bisa dijangkau oleh siapapun.
c. Renungkanlah keagungan akhlak Nabi shallallahu alaihi wasalam, sifat dan sikapnya yang sempurna, rendah hati kepada kaum mukminin dan keras terhadap orang-orang munafik dan musyrikin, pemberani, dermawan dan penyayang. Cukuplah sanjungan Allah atas beliau shallallahu alaihi wasalam:
“Dan sungguh engkau memiliki akhlak yang agung”.
d. Mengetahui kedudukan beliau shallallahu alaihi wasalam di sisi Allah Ta’ala. Beliau shallallahu alaihi wasalam adalah orang yang paling mulia di antara segenap umat manusia, penutup para Nabi, yang diistimewakan pada hari Kiamat atas segenap Nabi untuk memberikan syafa’at uzhma (agung), yang memiliki maqam mahmud (kedudukan terpuji), orang yang pertama kali membuka pintu Surga serta berbagai keutamaan beliau lainnya. .
Posted by Forum Kajian Islam Al-Atsary
(Disadur dari Abu Okasha)
Tanda-tanda Cinta Rasul saw
Cinta Nabi shallallahu alaihi wasalam tidaklah berupa kecenderungan sentimentil dan romantisme pada saat-saat khusus, misalnya dengan peringatan-peringatan tertentu. Cinta itu haruslah benar-benar murni dari lubuk hati seorang mukmin dan senantiasa terpatri di hati. Sebab dengan cinta itulah hatinya menjadi hidup, melahirkan amal shalih dan menahan dirinya dari kejahatan dan dosa.
Adapun tanda-tanda cinta sejati kepada Rasul shallallahu alaihi wasalam adalah:
a. Mentaati beliau shallallahu alaihi wasalam dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Pecinta sejati Rasul shallallahu alaihi wasalam manakala mendengar Nabi shallallahu alaihi wasalam memerintahkan sesuatu akan segera menunaikannya. Ia tak akan meninggalkannya meskipun itu bertentangan dengan keinginan dan hawa nafsunya. Ia juga tidak akan mendahulukan ketaatannya kepada isteri, anak, orang tua atau adat kaumnya. Sebab kecintaannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasalam lebih dari segala-galanya. Dan memang, pecinta sejati akan patuh kepada yang dicintainya.
Adapun orang yang dengan mudah-nya menyalahi dan meninggalkan perintah-perintah Nabi shallallahu alaihi wasalam serta menerjang berbagai kemungkaran maka pada dasarnya dia jauh lebih mencintai dirinya sendiri. Sehingga kita saksikan dengan mudahnya ia meninggalkan shalat lima waktu, padahal Nabi shallallahu alaihi wasalam sangat mengagungkan perkara shalat, hingga ia diwasiatkan pada detik-detik akhir sakaratul mautnya. Dan orang jenis ini, akan dengan ringan pula melakukan berbagai larangan agama lainnya. Na’udzubillah min dzalik.
b. Menolong dan mengagungkan beliau shallallahu alaihi wasalam. Dan ini telah dilakukan oleh para sahabat sesudah beliau wafat. Yakni dengan mensosialisasikan, menyebarkan dan mengagungkan sunnah-sunnahnya di tengah-tengah kehidupan umat manusia, betapapun tantangan dan resiko yang dihadapinya.
c. Tidak menerima sesuatupun perintah dan larangan kecuali melalui beliau shallallahu alaihi wasalam, rela dengan apa yang beliau tetapkan, serta tidak merasa sempit dada dengan sesuatu pun dari sunnah-nya. Adapun selain beliau, hingga para ulama dan shalihin maka mereka adalah pengikut Nabi shallallahu alaihi wasalam. Tidak seorang pun dari mereka boleh diterima perintah atau larangannya kecuali berdasarkan apa yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wasalam.
d. Mengikuti beliau shallallahu alaihi wasalam dalam segala halnya. Dalam hal shalat, wudhu, makan, tidur dsb. Juga berakhlak dengan akhlak beliau shallallahu alaihi wasalam dalam kasih sayangnya, rendah hatinya, kedermawanannya, kesabaran dan zuhudnya dsb.
e. Memperbanyak mengingat dan shalawat atas beliau shallallahu alaihi wasalam . Mengharapkan bisa mimpi melihat beliau, betapapun harga yang harus dibayar. Dalam hal shalawat Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda:
“Barangsiapa bershalawat atasku sekali, niscaya Allah bershalawat atasnya sepuluh kali.” (HR. Muslim).
Adapun bentuk shalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasalam adalah sebagaimana yang beliau ajarkan. Salah seorang sahabat bertanya tentang bentuk shalawat tersebut, beliau menjawab:
“Ucapkanlah:(Ya Allah, bershalawatlah atas Muhammad dan keluarga Muhammad).” (HR. Al-Bukhari No. 6118, Muslim No. 858).
f. Mencintai orang-orang yang dicintai Nabi shallallahu alaihi wasalam . Seperti Abu Bakar, Umar, Aisyah, Ali radhiallahu anhum dan segenap orang-orang yang disebutkan hadits bahwa beliau shallallahu alaihi wasalam mencintai mereka. Kita harus mencintai orang yang dicintai beliau dan membenci orang yang dibenci beliau shallallahu alaihi wasalam . Lebih dari itu, hendaknya kita mencintai segala sesuatu yang dicintai Nabi, termasuk ucapan, perbuatan dan sesuatu lainnya.
Posted by Forum Kajian Islam Al-Atsary
(Disadur dari Abu Okasha)
Kewajiban Mencintai Rasulullah saw
Dari Anas radhiallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasalam, bahwasanya beliau shallallahu alaihi wasalam bersabda:
“Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan segenap umat manusia.” (Muttafaq Alaih)
Hadits shahih di atas adalah dalil tentang wajibnya mencintai Nabi shallallahu alaihi wasalam dengan kualitas cinta tertinggi. Yakni kecintaan yang benar-benar melekat di hati yang mengalahkan kecintaan kita terhadap apapun dan siapapun di dunia ini. Bahkan meskipun terhadap orang-orang yang paling dekat dengan kita, seperti anak-anak dan ibu bapak kita. Bahkan cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam itu harus pula mengalahkan kecintaan kita terhadap diri kita sendiri.
Dalam Shahih Al-Bukhari diriwayatkan, Umar bin Khathab radhiallahu anhu berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wasalam :
“Sesungguhnya engkau wahai Rasulullah, adalah orang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu selain diriku sendiri.” Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda, ‘Tidak, demi Dzat yang jiwaku ada di TanganNya, sehingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri’. Maka Umar berkata kepada beliau, ‘Sekarang ini engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.’ Maka Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda, ‘Sekarang (telah sempurna kecintaanmu/ imanmu padaku) wahai Umar.”
Karena itu, barangsiapa yang kecintaannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasalam belum sampai pada tingkat ini maka belumlah sempurna imannya, dan ia belum bisa merasakan manisnya iman hakiki sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Anas radhiallahu anhu , dari Nabi shallallahu alaihi wasalam , beliau bersabda:
“Ada tiga perkara yang bila seseorang memilikinya, niscaya akan merasakan manisnya iman, ‘Yaitu, kecintaannya pada Allah dan RasulNya lebih dari cintanya kepada selain keduanya……”
Kenapa Cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam ?
Tidak akan mencapai derajat kecintaan kepada Rasul shallallahu alaihi wasalam secara sempurna kecuali orang yang mengagungkan urusan din (agama)nya, yang keinginan utamanya adalah merealisasikan tujuan hidup, yakni beribadah kepada Allah Ta’ala. Dan selalu mengutamakan akhirat daripada dunia dan perhiasannya.
Cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam inilah dengan izin Allah menjadi sebab bagi kita mendapatkan hidayah (petunjuk) kepada agama yang lurus. Karena cinta Rasul pula, Allah menyelamatkan kita dari Neraka, serta dengan mengikuti beliau shallallahu alaihi wasalam kita akan mendapatkan keselamatan dan kemenangan di akhirat.
Adapun cinta keluarga, isteri dan anak-anak maka ini adalah jenis cinta duniawi. Sebab cinta itu lahir karena mereka memperoleh kasih sayang dan manfaat materi. Cinta itu akan sirna dengan sendirinya saat datangnya Hari Kiamat. Yakni hari di mana setiap orang berlari dari saudara, ibu, bapak, isteri dan anak-anaknya karena sibuk dengan urusannya sendiri. Dan barangsiapa lebih mengagungkan cinta dan hawa nafsunya kepada isteri, anak-anak dan harta benda duniawi maka cintanya ini akan bisa mengalahkan kecintaannya kepada para ahli agama, utamanya Rasul shallallahu alaihi wasalam .
Posted by Forum Kajian Islam Al-Atsary
(Disadur dari Abu Okasha)
Dahsyatnya Shalawat!!!
Shalawat dan salam marilah kita sanjungkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw dan keluarga, sahabat-sahabat serta para pengikutnya.
Sabda Nabi Muhammad Saw: “Empat perbuatan termasuk perbuatan yang tidak terpuji, yaitu (1) bila seseorang buang air kecil sambil berdiri, (2) seseorang yang mengusap dahinya sebelum selesai dari shalat, (3). Seseorang yang mendengar adzan tetapi ia tidak menirukan seperti yang diucapkan muadzin, (4) seseorang yang apabila mendengar namaku disebut, tetapi ia tidak membacakan shalawat atasku” (HR. Bazzar dan Tabhrani).
Dalam ibadah sehari-hari, sebenarnya ada sebuah perbuatan ringan yang apabila kita lakukan mendatangkan akibat yang maha dahsyat, dan apabila kita tinggalkan maka kita termasuk golongan orang yang tidak berbalas budi.
Pada saat kita telah diberi bantuan oleh orang lain, sudahlah pasti akan mengucapkan terima kasih yang tak terhingga, atau mungkin mengucapkan doa untuk kebaikannya. Begitu pula dengan Rasulullah Saw yang telah mengeluarkan kita dari lembah kegelapan menuju alam terang benderang, maka sudahlah pantas bagi kita untuk selalu mengucapkan sholawat dan salam atas beliau, sebagai ungkapan rasa terima kasih dan kecintaan kita atas segala jasa dan perjuangan yang tak tertandingi di alam jagad ini. Dalam ibadah-ibadah lain, Allah Swt memerintahkan kepada hamba-hambaNya untuk mengerjakannya, namun khusus dalam perintah membaca shalawat, Allah Swt menyebutkan bahwa Allah sendiri bershalawat atasnya, kemudian memerintahkan kepada malaikatNya, baru kemudian pada orang-orang yang beriman untuk bershalawat atasnya. Dengan hal ini semakin menunjukkan bahwasanya melakukan shalawat atas Nabi muhammad saw, tidak cuma sekedar ungkapan terima kasih, tetapi ia juga menjadi ibadah yang utama.
Bila kita ingin mengetahui bahwa shalawat termasuk ibadah yang utama, maka perhatikan dan renungkan firman Allah Swt dalam al-Quran: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya, bershalawat atas Nabi, wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkan salam penghormatan kepadanya”. (QS. Al-Ahzab 56).
Dari ayat tersebut kita mengetahui, Allah Swt saja sang Pencipta jagad raya dan mahkluk seluruh dunia termasuk diri kita yang kecil ini, mau bershalawat terhadap Nabi Muhammad Saw, dan juga para malaikat yang telah dijamin tak akan berbuat kesalahan turut bershalawat terhadap nabi, mengapa diri kita yang telah diselamatkan beliau masih melupakan ibadah yang teramat mulia ini. Sesungguhnya perbuatan seseorang menunjukkan pada perangai dirinya.
Shalawat adalah sebuah ibadah yang tidak berbatas alam, jarak ataupun waktu. Artinya bila diucapkan maka akan menembus alam langit yang sangat jauh, didengar para malaikat, lalu turut menyampaikan doa bagi manusia yang mengucapkannya, dan menembus Alam kubur menyampaikan salam yang diucapkan manusia kepada Nabi Muhammad Saw.
Nabi Saw bersabda: “Tidak ada salah seorang di antara kamu yang mengucapkan salam kepadaku sesudah aku mati melainkan malaikat jibril datang kepadaku seraya mengucapkan: ‘wahai Muhammad, ini Fulan bin Fulan mengucapkan salam untukmu, maka aku menjawab: “dan atasnya salam dan rahmat serta berkah dari Allah”. (HR. Abu Daud).
Lalu apa fadhilah mengucapkan shalawat dan salam atas junjungan kita Nabi Besar Muhammad Saw? Ada beberapa riwayat dari hadist Rasulullah Saw, Atsar sahabat Radiallahu anhum dan pengalaman beberapa ulama yang mengisyaratkan imbalan bagi mereka yang mau bershalawat.
1). Shalawat membersihkan dosa
Sabda Nabi Saw:“bacalah shalawat atasku karena sesungguhnya shalawat atasku membersihkan dosa-dosamu, dan mintalah kepada Allah untukku wasilah”. Para sahabat bertanya: “apakah wasilah itu?” beliau menjawab: “derajat yang paling tinggi di sorga yang hanya seorang saja yang akan memperolehnya dan aku berharap semoga akulah orang yang memperolehnya”.
2). Shalawat berpahala sepuluh rahmat Allah dan menghapus sepuluh kesalahan
Sabda Nabi Saw: “barangsiapa yang membaca shalawat atasku satu shalawat maka Allah akan menurunkan sepuluh rahmat kepadanya dan menghapus sepuluh kesalahannya” (HR. Nasai).
3). Dikabulkan hajat di dunia dan akhirat
Sabda beliau Saw: “barangsiapa yang membacakan shalawat untukku pada suatu hari seratus kali, maka Allah akan memenuhi seratus hajatnya, 70 di antaranya nanti di akhirat dan 30 di dunia. (Kitab Jam’ul Jawami’, Hal: 796).
4). Terangkatnya derajat manusia
Sabda beliau Saw: “barangsiapa di antara umatku yang membacakan shalawat atasku satu kali dengan ikhlas dari lubuk hatinya, maka Allah menurunkan sepuluh rahmat kepadanya, mengangkat sepuluh derajat kepadanya, dan menghapus sepuluh kesalahan”. (HR. Nasai).
5). Menjadikan doa cepat terkabul
Bahwasanya Umar bin Khattab Ra berkata: “Saya mendengar bahwa doa itu ditahan diantara langit dan bumi, tidak akan dapat naik, sehingga dibacakan shalawat atas nabi Muhammad Saw”. (Atsar Hasan, Riwayat Tirmidzi).
Ada sebuah cerita, bahwasanya ulama besar Sufyan ats Tsauri sedang thawaf mengelilingi ka’bah dan melihat seseorang yang setiap kali mengangkat kaki dan menurunkannya senantiasa membaca shalawat atas nabi.
Sufyan bertanya: “Sesungguhnya engkau telah telah tinggalkan tasbih dan tahlil, sedang engkau hanya melakukan shalawat atas Nabi. Apakah ada bagimu landasan yang khusus? Orang itu menjawab: “Siapakah engkau? Semoga Allah mengampunimu.
Sufyan menjawab: “Saya adalah sufyan ats tsauri”. Orang itu berkata: “seandainya kamu bukanlah orang yang istimewa di masamu ini niscaya saya tidak akan memberitahukan masalah ini dan menunjukkan rahasiaku ini”.
Kemudian orang itu berkata kepada sufyan: “sewaktu saya mengerjakan haji bersama ayahku, dan ketika berada di dekat kepalanya ayahku meninggal dan mukanya tampak hitam, lalu saya mengucapkan “innalillah wa inna ilahi rajiun” dan saya menutup mukanya dengan kain.
Kemudian saya tertidur dan bermimpi, dimana saya melihat ada orang yang sangat tampan, sangat bersih dan mengusap muka ayahku, lalu muka ayahku itu langsung berubah menjadi putih. Saat orang yang tampan itu akan pergi, lantas saya pegang pakaiannya sambil bertanya: “wahai hamba Allah siapakah engkau? Bagaimana lantaran kamu Allah menjadikan muka ayahku itu langsung berubah menjadi putih di tempat yang istimewa ini?. Orang itu menjawab: “apakah kamu tidak mengenal aku?
Aku adalah Muhammad bin Abdullah yang membawa al-Quran. Sesungguhnya ayahmu itu termasuk orang yang melampaui batas (banyak dosanya) akan tetapi ia banyak membaca shalawat atasku. Ketika ia berada dalam suasana yang demikian, ia meminta pertolongan kepadaku, maka akupun memberi pertolongan kepadanya, karena aku suka memberi pertolongan kepada orang yang banyak memperbanyak shalawat atasku”. Setelah itu saya terbangun dari tidur, dan saya lihat muka ayahku berubah menjadi putih. (Dari Kitab: Tanbihun Ghofilin, as-Samarqhondi, hal: 261).
Begitu dahsyatnya balasan shawalat terhadap Nabi Saw. sehingga bagi siapapun yang mengucapkannya akan melibatkan Allah, para malaikat dan Nabi Muhammad Saw langsung membalasnya, tidak cuma balasan pahala, imbalan atau keselamatan di akhirat, tetapi juga mendapat syafaat dari Nabi Muhammad Saw.
Orang yang mendengar shalawat atas nabi, tetapi tidak menjawabnya lalu ia meninggal dan masuk neraka, maka Allah menjauhkan dari RahmatNya.
Sabda Nabi: “Jibril datang kepadaku dan berkata: “wahai Muhammad, barangsiapa yang mendapatkan bulan ramadhan namun ia tidak diampuni dosanya, lalu ia mati dan masuk neraka, maka Allah akan menjauhkan dari RahmatNya. Aku menjawab: “amin”. Jibril berkata lagi: “barangsiapa yang masih bertemu dengan kedua orangtuanya atau salah satu diantaranya kemudian tidak berbuat baik pada orang tuanya, lalu mati dan masuk neraka, maka Allah menjauhkan dari rahmatNya. Aku menjawab: “Amin”. Jibril berkata lagi: “barangsiapa yang disebutkan namamu (muhammad) namun ia tidak membacakan shalawat lalu ia mati dan masuk neraka, maka Allah menjauhkan dari rahmatNya. Aku mengucapkan “Amin”. (HR. Ibnu Hibban).
Ucapkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad Saw, disaat kita senggang, disaat akan menggubah posisi kegiatan kita, disaat kapanpun, dimanapun selagi kita mampu. Dan bila ada yang mengucapkan shalawat maka jawablah.Jangan lupakan shalawat, karena bila kita lupa berarti kita telah melupakan seseorang yang telah menunjukkan kita kejalan yang lurus yaitu Nabi Muhammad Saw. bila kita telah melupakan shalawat berarti kita telah melupakan dan keliru dari jalan yang seharusnya kita tempuh menuju sorga.
“barangsiapa yang lupa membaca shawalat atasku, berarti ia telah keliru dari jalan ke sorga” (HR. Ibnu majah).
Sumber http://www.pesantrenvirtual.com/index.php/component/content/
article/22-pengajian/1255-dahsyatnya-sholawat
18 Maret 2009
Detik detik Terakhir Kehidupan Kekasih Allah.
Dari Ibnu Mas’ud ra bahawasanya Rasulullah SAW bersabda:
Ajalku hampir tiba, dan akan pindah ke hadirat Allah, ke Sidratulmuntaha dan ke Jannatul Makwa serta ke Arsyila’la.”
Kami bertanya lagi: “Siapakah yang akan memandikan baginda ya Rasulullah?
Rasulullah menjawab: Salah seorang ahli baitku.
Kami bertanya: Bagaimana nanti kami mengafani baginda ya Rasulullah?
Baginda menjawab: “Dengan bajuku ini atau pakaian Yamaniyah.”
Kami bertanya: “Siapakah yang mensolatkan baginda di antara kami?” Kami menangis dan Rasulullah SAW pun turut menangis.
Kemudian baginda bersabda: “Tenanglah, semoga Allah mengampuni kamu semua. Apabila kamu semua telah memandikan dan mengafaniku, maka letaklah aku di atas tempat tidurku, di dalam rumahku ini, di tepi liang kuburku, kemudian keluarlah kamu semua dari sisiku. Maka yang pertama-tama mensholatkan aku adalah sahabatku Jibril as. Kemudian Mikail, kemudian Israfil kemudian Malaikat Izrail (Malaikat Maut) beserta bala tenteranya. Kemudian masuklah kalian dengan sebaik-baiknya. Dan hendaklah yang mula sholat adalah kaum lelaki dari pihak keluargaku, kemudian yang wanita-wanitanya, dan kemudian kamu sekalian.”
Sehari menjelang baginda wafat yaitu pada hari Ahad, penyakit baginda semakin bertambah serius. Pada hari itu, setelah Bilal bin Rabah selesai mengumandangkan azannya, ia berdiri di depan pintu rumah Rasulullah, kemudian memberi salam: “Assalamualaikum ya Rasulullah?” Kemudian ia berkata lagi “Assholah yarhamukallah.”
Kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali bin Abi Thalib dan Abbas ra, sambil dibimbing oleh mereka berdua, maka baginda berjalan menuju ke masjid. Baginda sholat dua rakaat, setelah itu baginda melihat kepada orang ramai dan bersabda: “Ya ma’aasyiral Muslimin, kamu semua berada dalam pemeliharaan dan perlindungan Allah, sesungguhnya Dia adalah penggantiku atas kamu semua setelah aku tiada. Aku berwasiat kepada kamu semua agar bertakwa kepada Allah SWT, kerana aku akan meninggalkan dunia yang fana ini. Hari ini adalah hari pertamaku memasuki alam akhirat, dan sebagai hari terakhirku berada di alam dunia ini.”
Malaikat Maut Datang Bertamu
Pada esoknya, yaitu Senin, Allah mewahyukan kepada Malaikat Maut supaya ia turun menemui Rasulullah SAW dengan berpakaian sebaik-baiknya. Dan Allah menyuruh kepada Malaikat Maut mencabut nyawa Rasulullah SAW dengan lemah lembut. Seandainya Rasulullah menyuruhnya masuk, maka ia dibolehkan masuk, namun jika Rasulullah SAW tidak mengizinkannya, ia tidak boleh masuk, dan hendaklah ia kembali saja.
Maka turunlah Malaikat Maut untuk menunaikan perintah Allah SWT. Ia menyamar sebagai seorang biasa. Setelah sampai di depan pintu tempat kediaman Rasulullah SAW, Malaikat Maut itupun berkata: “Assalamualaikum Wahai ahli rumah kenabian, sumber wahyu dan risalah!” Siti Fatimah pun keluar menemuinya dan berkata kepada tamunya itu: “Maafkanlah, ayahku sedang demam”, kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya,
Kemudian Malaikat Maut itu memberi salam lagi: “Assalamualaikum. Bolehkah saya masuk?” Akhirnya Rasulullah SAW mendengar suara Malaikat Maut itu, lalu baginda bertanya kepada puterinya Fatimah: “Siapakah itu wahai anakku?” Fatimah menjawab: “Seorang lelaki, sepertinya baru sekali ini saya melihatnya,” tutur Fatimah lembut.
Rasulullah SAW bersabda: “Tahukah kamu siapakah dia, wahai anakku?” Fatimah menjawab: “Tidak wahai Rasulullah.” Lalu Rasulullah SAW menjelaskan sambil menatap wajah anaknya, seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang “Wahai Fatimah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut.” Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Masuklah, Wahai Malaikat Maut. Maka masuklah Malaikat Maut itu sambil mengucapkan ‘Assalamualaika ya Rasulullah.” Rasulullah SAW pun menjawab: Waalaikassalam Ya Malaikat Maut. Engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?”
Malaikat Maut menjawab: “Saya datang untuk ziarah sekaligus mencabut nyawa. Jika anda izinkan akan saya lakukan, kalau tidak, saya akan pulang.
Rasulullah SAW bertanya: “Wahai Malaikat Maut, di mana engkau tinggalkan kecintaanku Jibril? “Saya tinggal dia di langit dunia” Jawab Malaikat Maut.
Baru saja Malaikat Maut selesai bicara, tiba-tiba Jibril as datang kemudian duduk di samping Rasulullah SAW. Maka bersabdalah Rasulullah SAW: “Wahai Jibril, tidakkah engkau mengetahui bahawa ajalku telah dekat? Jibril menjawab: Ya, Wahai kekasih Allah.”
Ketika Sakaratul Maut Tiba
Seterusnya Rasulullah SAW bersabda: “Beritahu kepadaku Wahai Jibril, apakah yang telah disediakan Allah untukku di sisinya? Jibril pun menjawab; “Bahawasanya pintu-pintu langit telah dibuka, sedangkan malaikat-malaikat telah berbaris untuk menyambut rohmu.”
Rasulullah SAW bersabda: “Segala puji dan syukur bagi Tuhanku. Wahai Jibril, apa lagi yang telah disediakan Allah untukku? Jibril menjawab lagi: Bahawasanya pintu-pintu Syurga telah dibuka, dan bidadari-bidadari telah berhias, sungai-sungai telah mengalir, dan buah-buahnya telah ranum, semuanya menanti kedatangan rohmu.”
Rasulullah SAW bersabda lagi: “Segala puji dan syukur untuk Tuhanku. Beritahu lagi wahai Jibril, apa lagi yang di sediakan Allah untukku? Jibril menjawab: Aku memberikan berita gembira untuk anda wahai kekasih Allah. Engkaulah yang pertama-tama diizinkan sebagai pemberi syafaat pada hari kiamat nanti.”
Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Segala puji dan syukur, aku panjatkan untuk Tuhanku. Wahai Jibril beritahu kepadaku lagi tentang khabar yang menggembirakan aku?”
Jibril as bertanya: “Wahai kekasih Allah, apa sebenarnya yang ingin tuan tanyakan? Rasulullah SAW menjawab: “Tentang kegelisahanku, apakah yang akan diperolehi oleh orang-orang yang membaca Al-Quran sesudahku? Apakah yang akan diperolehi orang-orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan sesudahku? Apakah yang akan diperolehi orang-orang yang berziarah ke Baitul Haram sesudahku?”
Jibril menjawab: “Saya membawa khabar gembira untuk baginda. Sesungguhnya Allah telah berfirman: Aku telah mengharamkan Syurga bagi semua Nabi dan umat, sampai engkau (Muhammad) dan umatmu memasukinya terlebih dahulu.”
Maka berkatalah Rasulullah SAW: “Sekarang, tenanglah hati dan perasaanku. Wahai Malaikat Maut dekatlah kepadaku” Lalu Malaikat Maut pun berada dekat Rasulullah SAW.
Imam Ali kw, bertanya: “Wahai Rasulullah SAW, siapakah yang akan memandikan anda dan siapakah yang akan mengafaninya? Rasulullah menjawab: Adapun yang memandikan aku adalah engkau wahai Ali, sedangkan Ibnu Abbas menyiramkan airnya dan Jibril akan membawa hanuth (minyak wangi) dari dalam Syurga.
Kemudian Malaikat Maut pun mulai mencabut nyawa Rasulullah. Ketika roh baginda sampai di pusat perut, baginda berkata: “Wahai Jibril, alangkah pedihnya maut.”
Mendengar ucapan Rasulullah itu, Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam, Jibril as memalingkan mukanya. Lalu Rasulullah SAW bertanya: “Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka memandang mukaku? Jibril menjawab: Wahai kekasih Allah, siapakah yang sanggup melihat muka baginda, sedangkan baginda sedang merasakan sakitnya maut?”
“Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku” “peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”
Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
“Ummatii,ummatii, ummatiii” - “Umatku, umatku, umatku”
Fathimah Az-Zahra` a.s. di masa-masa terakhir Kehidupan Rasulullah SAW
Di akhir-akhir umurnya Rasulullah SAW, Fathimah a.s. menatap wajah ayahnya yang bercahaya dan mengalirkan keringat dingin. Sambil menangis ia menatap ayahnya. Sang ayah tidak tega melihat putrinya menangis dan gelisah. Akhirnya sang ayah membisikkan sebuah ucapan di telinganya sehingga ia tenang dan tersenyum. Senyumnya pada masa-masa krisis seperti itu terlihat sangat aneh. Mereka bertanya kepadanya: “Rahasia apakah yang telah ia ucapkan?” Ia hanya menjawab: “Selama ayahku hidup aku akan bungkam seribu bahasa”. Setelah Rasulullah SAW meninggal dunia, ia membongkar rahasia itu. Fathimah a.s. berkata: “Ayahku mengatakan kepadaku bahwa engkau adalah orang pertama dari Ahlul Baytku yang akan menyusulku. Oleh karena itu, aku bahagia”.
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa alih wasalam.
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Bagai mana dengan kita pada beliau?
Purwokerto 10 Maret 2009 (ini bukan tulisanku sendiri, tapi mohon maaf, aku tak tahu dari mana sumbernya ataupun siapa penulisanya, jika ada yang berkenan memberi tahu, silahkan postkan di komentar.)
08 Maret 2009
Bapak Plesiden (Bagian III/Akhir)
Bunda mencoba meresapi ayat kesebelas ini, namun konsentrasinya buyar ketika ia sadar Afifah sudah bangun dan kini duduk manja bersender kepangkuannya. Bunda menutup mushaf Al-Qur’annya dengan shadaqallauladzim.
“Wah… bidadari bunda sudah bangun ya!”
Afifah tidak menjawab, ia malah tersenyum sumringah menatap bunda.
“Kenapa sayang? Sepertinya Afifah lagi senang ya!”
Afifah menganggukkan kepalanya masih dengan senyuman yang lucu mempesona siapapun yang melihatnya.
“Boleh bunda tau kenapa?”
“Tadi Afifah ketemu sama bapak Plesiden!”
Bunda menanggapi jawaban anaknya itu dengan respon yang biasa-biasa saja.
“Kapan Afifah ketemu sama bapak Presiden?”
“Balusan dalam mimpi!”
Bunda sedikit mengerutkan dahinya.
“Tau dari mana kalau yang Afifah liat dimimpi itu bapak Presiden?”
“Bapak Plesiden sendili yang ngasih tau sama Afifah!”
Anakku mimpi ketemu sama Presiden Soeharto? Aku ga yakin, Afifah mana tau nama Presiden Indonesia. Bunda bergumam dalam hatinya.
“Emang siapa nama bapak Presiden itu?”
Afifah mengerutkan keningnya, disusul kemudian dengan garuk-garuk kepala, sesaat dia mengetuk-ngetukkan telunjuk kanan ke kepalanya, meniru gaya bapaknya kalau sedang berfikir.
“Aduh… Afifah lupa Bunda!”
Afifah kembali menggaruk-garuk kepalanya, padahal kepalanya itu tidak gatal sama sekali.
“Namanya… siapa ya? Tadi Afifah inget kok, bapak Plesiden bisikkin namanya ketelinga Afifah, lalu nyium kening Afifah”
Bunda tersenyum menyaksikan tingkah anak kesayangan satu-satunya itu.
“Oh iya… tadi malam bunda ngajalin Afifah bacaan shalawat kan!”
Bunda mengangguk.
“Coba deh bunda bacain lagi shalawatnya.”
“Emang Afifah lupa bacaan shalawatnya?”
Afifah tersenyum sembari kembali menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Allahumma shalli wa sallim ala sayyidina Muhammad”
“Ya… Ketemu!”
Afifah setengah berteriak senang hingga mengagetkan bunda.
“Afifah ingat nama bapak Plesidennya bunda!”
Bunda tersenyum sembari membelai rambut Afifah.
“Coba kasih tau bunda siapa nama bapak Presiden yang katanya berani nyium kening Afifah?”
“Namanya Muhammad!!!”
Mendengar jawaban Aififah, mata Bunda terbelalak dan seketika itu terlinanglah air yang berontak memaksa untuk keluar, bulu kuduknya berdiri, Bunda langsung memeluk tubuh mungil Afifah, batinnya semakin menjerit ketika ia teringat dengan hadist yang menyebutkan: “Barangsiapa melihatku (Rasulullah) dalam mimpi, maka ia sesungguhnya telah melihatku dengan sebenarnya, kerena setan tidak mampu menyerupaiku”
Tangis Bunda akhirnya pecah juga karena tak kuasa menahan kenikmatan yang diucapkan bibir mungil anaknya yang menyulamkan kerinduan yang sangat dalam hatinya akan perjumpaan dengan Rasulullah Muhammad saw.
“Bunda… kenapa Bunda nangis, bunda ga suka sama jawaban Afifah ya?”
Bunda tidak langsung menjawab, ia sejenak mencoba menata perasaannya, sekuat tenaga memaksakan tangisnya untuk berhenti, mengelap air mata yang membasahi pipi putihnya dan tersenyum anggun memandang Afifah.
“Tubuhmu sungguh wangi sayang… bapak Presiden bilang apa lagi sama Afifah?”
“Pas bapak Plesiden mau pelgi ninggalin Afifah, Afifah tanya bapak Plesiden mau kemana? Bapak Plesiden jawab katanya mau kesulga, Afifah bilang pengen ikut, bapak Plesiden bilang nanti belum saatnya, terus Afifah bilang lagi kalau gitu mintain izin sama Allah, Afifah pengen masuk kesulga nanti supaya bisa ketemu lagi sama bapak Plesiden, bapak Plesiden senyum sama Afifah, telus nganggukkin kepalanya dan bilang nanti disampaikan, Bunda… bapak Plesiden itu ganteng ya!”
(Purwokerto, Senin 12 Rabiul Awal 1430 H / 9 Maret 2009, 03.00. Sungguh Afifah telah jatuh cinta kepadamu ya Rasul Allah, padahal ia baru pertama kali bertemu denganmu, padahal ia sendiri belum mengerti apa itu cinta dan rindu, Ya Rabb, diusianya yang belum menginjak tahun keenam, Engkau telah memberikan hadiah terindah yang takkan pernah ia lupakan selama hayatnya, hadiah untuk cinta tulusnya pada kekasih-Mu Al-Musthafa Al-Amin, Cinta yang bisa merubah jalan hidup siapapun untuk menjadi lebih berarti, cinta yang takkan pernah mengecewakan pencintanya. Rasul-Mu datang dimimpinya gadis sekecil bernama Afifah, tidak dimimpi Bundanya, tidak dimimpi Bapaknya pun tidak pula datang kemimpiku, adakah yang salah dengan cinta kami pada Rasul-Mu, padahal kami sudah lebih dahulu mengenal beliau saw, sedangkan Afifah baru mengenalnya tadi malam, bahkan saat inipun mama kekasih-Mu itu lupa dari ingatannya, padahal kami lebih dulu dan lebih banyak membacakan shalawat untuk kekasih-Mu saw, sedangkan Afifah baru membacakan shalawatnya tadi malam menjelang Engkau tidurkan ia, adakah yang salah dengan cinta Bunda, cinta Bapak dan cintaku? Wallahu’alam bissawab.)
TAMAT
Bapak Plesiden (Bagian II)
Tangis Afifah seketika direm mendadak meski segukkan masih sesekali keluar, ia lantas berlari mengambil tangan bapak dan menari-nariknya kearah pintu.
“Afifah mau kemana?”
Bapak beberapa kali bertanya dengan pertanyaan itu sembari berjalan mengikuti arah tarikan tangan Afifah. Ketika sudah melewati pindu rumah…
“Antelin Afifah kesulga sekalang, Afifah pengen ketemu sama bapak Plesiden semua manusia itu!”
Bapak mengerem langkahnya sembari tertawa kecil, Bunda yang mengikuti dari belakangpun juga terlihat menangkupkan tangan kanan dibibir untuk menutupi tawanya.
“Kenapa bapak malah ketawa? Bunda juga?”
Afifah lalu terdiam sejenak menatap mereka berdua.
“Kita belum diizinkan pergi kesurga, semoga Allah nanti mengizinkan kita masuk kesana sekeluarga!”
Mendengar jawaban bapak, seketika itu Afifah berlari kedalam rumah, Bunda dan bapak mengikuti dari belakang. Afifah mengambil gagang telpon dan menempelkannya kearah telinga dan mulutnya.
“Berapa nomolnya bunda?”
“Nomor siapa sayang?”
Bunda menyahut.
“Nomol telepon lumahnya Allah, bial Afifah mintain izin supaya kita bisa masuk ke sulga, bial kita bisa ketemu sama bapak Plesiden!”
Bunda dan bapak kembali menyuguhkan tawa kecil dari wajah mereka untuk semua keluguan Afifah, sementara Afifah terlihat kesal, seketika itu juga ia banting gagang telepon, menarik napas panjang untuk sebuah ancang-ancang, dan… Afifah kembali mengeluarkan jurus andalannya dengan tekanan yang lebih tinggi dan keras~ menangis.
Bapak melangkah mendekati tasnya yang tersimpan diatas lantai dekat pintu rumah, membuka resletingnya, mengeluarkan sesuatu dari dalam tas itu dan langsung menyembunyikannya dibelakang punggungnya, ia berjalan mendekati Afifah dan berjongkok dihadapan dia yang sedang beratraksi guling sini guling sana mengeksplorasi lantai.
“Sayang… bapak bawain hadiah buat Afifah, mau?”
Afifah tak memperdulikan bujuk rayu bapak.
“Bapak bawain minuman kesukaan ade loh, mau ga? Kalau ga mau bapak kasih bunda nih!”
Afifah sedikit terprovokasi dengan lontar ancaman bapak, Afifah menoleh setengah malu-malu tapi mau. Sembari masih menangis…
“Bapak bawa apa!”
“Kalau nangisnya berhenti, bapak janji ngasih tau Afifah!”
Dan seketika itu entah kenapa tangisan Afifah terhenti seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa disana.
“Ini dia…”
Bapak memperlihatkan barang yang disembunyikan dibelakang punggungnya, Afifah berdiri hendek merebut benda itu, tapi bapak keburu menghindarkannya dari sabetan tangan Afifah.
“Senyum dulu dong!”
Bapak genit menggoda Afifah, Afifahpun akhirnya memaksakan senyum untuk bapak. Benda itupun jatuh dalam kekuasaan tangan Afifah, ia mengambil sedotan yang menempel dibungkusnya, menusukkannya dan siap menyedot susu rasa strobery kesukaan Afifah, sepersekian detik bibir Afifah menempel disedotan itu…
“Eit… bidadari bapak udah lupa baca basmalah ya!”
Napas Afifah tertahan dan senyuman melayang kemudian.
“Bismillahirrahmaanirrahim!”
Tanpa menunggu lama iapun menyeruput susu dalam kemasan itu, satu menit kemudian kemasan itupun tergeletak dilantai tak bertuan karena susu telah kering darinya. Afifah sepertinya sudah terlanjur kelelahan, ia melangkah menggapai tangan bunda dan menganjaknya masuk kedalam kamar untuk mengakhiri hari ini dengan tidur.
Setelah dibimbing bunda sama-sama membaca ayat kursi, qulhuwallahu ahad, qul a’uudzubiribbil falaq, qul a’uudzubiribbinnas sama bismika, Afifahpun mulai memejamkan mata.
“Sayang…”
Afifah membuka kembali matanya mendengar sapaan bunda.
“Kalau Afifah pengen ketemu sama bapak Presiden seluruh manusia, Afifah harus sering-sering baca shalawat untuk beliau…”
“Gimana bacaan shalawatnya bunda?”
“Allahumma shalli wa sallim ala sayyidina Muhammad”
Setelah beberapa kali diulangi oleh bunda, Afifahpun hafal dengan bacaan shalawat itu, dan ia terus mendawamkannya hingga iapun sudah tak sadar terlelap dalam tidurnya yang damai.
“Sesungguhnya kamu (Muhammad) hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatNya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.”
Bersambung...
Bapak Plesiden (Bagian I)
Umur Afifah belum menginjak angka ditahun keenam, tak tahu pastinya berapa yang jelas lidahnya masih belum bisa mengucapkan huruf “r”, tapi itu semua tidak menjadi masalah, yang penting sekarang ini adalah saat dimana untuk pertama kalinya Afifah mendengar sesosok nama yang belum pernah ia kenal seselumnya, siapa dia ya? Fikir Afifah saat ini, saat dimana mesjid dikampungnya dipenuhi orang-orang yang datang ‘hanya’ (fikir Afifah) untuk menyebut-nyebut nama orang itu, mengucapkan salam padanya dan mempersembahkan shalawat untuknya.
Siapa dia? Apa sih hebatnya sampe bikin olang-olang beljamaah menyanjungnya? padahal katanya olang-olang dikampung belum pelnah beltemu dengannya, bahkan katanya kakeknya kakek dali kakeknya melekapun diyakini belum pelnah beltemu dengannya.
“Beliau adalah bapak Presidennya seluruh umat manusia!”
Begitu jawab Bunda untuk memberikan penjelelasan atas pertanyaan yang dilontarkan Afifah setelah mereka pulang dari pengajian maulid nabi di mesjid kampung.
“Waah… keleeen ya bunda!”
Begitulah kira-kira eksperesi Afifah ketika mendengar jawaban Bunda.
“Bunda… boleh Afifah fotonya?”
Bunda mengerutkan keningnya sesaat setelah disengat pertanyaan Afifah yang tidak diduga-duga, jelas saja bunda bingung karena ia takkan pernah bisa mengabulkan pinta anaknya itu.
“Kenapa Bunda malah diem, Bunda ga punya foto bapak Plesiden itu ya? Kalo gitu nanti disekolahan, Afifah mau beli postelnya aja ah…”
Bunda menggeleng-gelengkan kepalanya sembari melayangkan senyum kearah Afifah.
“Kamu takkan pernah bisa menemukan gambarnya sayang!”
Ternyata Afifah terus mendesak Bunda untuk bisa mengabulkan inginnya melihat wajah bapak Presiden sembari sedikit merengek, tak terasa ternyata air mata mulai terlinang ketika itu, maklumlah namanya juga anak-anak. Afifah terus meronta, sedangkan Bunda sepertinya sudah kehilangan kata. Lama Bunda terdiam sementara rengekkan Afifah telah berubah menjadi tangis dengan derai air mata yang ia sendiri sebenarnya tak mengerti untuk apa ia menangisi seseorang yang belum pernah bertemu dengannya, seseorang yang penjelasan satu-satunya tentang dia hanyalah rangkaian kata “Beliau adalah bapak Presidennya seluruh umat manusia” dari lisan Bunda.
Tangisan Afifah semakin menjadi-jadi, bahkan kini mulai menjurus anarkis dengan melempar barang apapun yang ada didekatnya, Bunda terus mencoba peruntungannya untuk memberikan penjelasan pada Afifah, tapi ia tetap saja tak mau mengerti pokonya Afifah pengen liat wajah Presidennya semua manusia, gerutu hati Afifah tak mau tahu.
“Tak bisa sayang, fotonya ga ada meski kita cari kemana-mana”
“Kenapa bunda? foto Plesiden Indonesia aja (Soeharto lagi jaya-jayanya sebagai Presiden Indonesia ketika itu) ada di sekolahan ade, kenapa Plesiden seluluh manusia Bunda bilang ga ada?”
“Karena beliau tidak pernah difoto sayang…”
“Kenapa gitu? Kenapa Bunda ga minjemin kamela aja, bial kita bisa ngambil gambalnya?”
“Ga bisa sayang…”
“Bunda pelit! Bunda jahat!”
Tangis Afifah semakin menjadi-jadi padahal waktu sudah menunjukkan jam delapan malam.
“Assalamu’alaikum…”
Suara salam terdengar dari luar, pintu rumahpun menyusul terbuka, dan sesosok yang sangat femiliar berjalan masuk menghampiri Afifah yang sedang khusuk berguling-guling diatas lantai sembari terus mengeluarkan senjata andalannya~ menangis.
“Afifah sayang, bapak udah pulang tuh… ayo cium tangan!”
Perkataan Bunda tidak gubris Afifah, atau mungkin memang ia tidak mendengarnya karena saking khusuknya menangis.
“Wah… kenapa? bidadari bapak kok nangis!”
“Bunda jahat… bunda pelit…”
Afifah berteriak-teriak mengadu pada bapak sembari tetap~ menangis.
“Afifah minta apa bunda…?”
Sepersekian detik lidah Bunda mengeluarkan jawaban untuk bapak, Afifah keburu memotong dengan sigap.
“Bunda ga mau ngasih liat foto, bunda ga mau ngasih pinjem kamela!”
Jawab Afifah mengadu dengan harap bapak akan membelanya.
“Kasih aja bunda, daripada tangisannya mengganggu tetangga, kasihan kan mereka, ini udah malam lho.”
“Ga bisa pak!”
“Tuh kan bunda jahat! Bunda pelit!”
Afifah semakin merasa bapak akan memihak padanya.
“Kenapa ga bisa bunda! Emang fotonya siapa sih?”
Bunda tersenyum menatap bapak, Afifah sepertinya melihat raut wajah dengan senyumnya itu, senyuman yang seolah-olah menyepelekan keinginan Afifah saat ini.
“Afifah minta fotonya Rasulullah shalallahu alaihi wasalam”
Bapak sedikit terkejut mendengar jawaban yang lirih dibisikkan Bunda ketelinga bapak, senyumpun kemudian merekah dari bibir bapak. Bapak juga menyepelekanku dengan senyumnya, gerutu hati Afifah menggerutu kesal.
“Ya udah, kalau fotonya ga bisa, kasih aja Afifah kamera, emang buat apa mainin kamera malam-malam gini sayang?”
Bapak mengalihkan pandangannya pada Afifah.
“Ade mau ngambil foto Plesiden semua manusia dengan kamela itu!”
Bunda kembali tersenyum, sementara bapak malah mengerutkan dahinya.
“Emang siapa Presiden semua manusia itu, Afifah tahu namanya?”
Afifah menggeleng-gelengkan kepala, sementara tangis masih sedikit tersisa.
“Tanya aja sama bunda!”
Bapak mengalihkan pandangannya pada Bunda yang masih tersenyum.
“Presidennya bernama Muhammad shalallahu alaihi wa sallam!”
Bapak kembali menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyuman yang merekah lebar hingga memperlihatkan gusi atasnya setelah mendengar bisikn Bunda.
“Sudah… ga usah nangis, nanti kalau Afifah kesurga, Afifah pasti akan ketemu sama Presiden semua manusia itu!”
Bersambung...